Buletin Seguecast #04 - 29 Maret '21

Selamat datang di Buletin Seguecast, buletin mengenai budaya populer oleh orang-orang tidak populer. Buletin ini adalah proyek baru segenap kru Seguecast untuk menuliskan tentang hal-hal yang tidak begitu banyak orang pedulikan, but we care, damn it, dan sudah saatnya anda juga.

Pada edisi hari ini, Seigi & anjing/siswa menulis tentang media yang mereka konsumsi (tapi kalau dipikir semua tulisan Seguecast juga begitu…?) dimana Seigi menulis tentang existential angst dari realisasi bahwa hiburan dalam hidup jumlahnya tidak terbatas tetapi waktu manusia diatas muka bumi terbatas, dan anjing/siswa memberikan argumen kuat akan status Vtuber sebagai juara baru pewaris sabuk dan penerus seni kayfabe gulat profesional.

Kata-kata pro wrestling berikutnya total akan muncul sebanyak empat kali dalam buletin kali ini, cukup itu yang bisa saya katakan.

Kalau anda seseorang yang keren, akan ada tombol berwarna merah yang muncul dibawah tulisan ini, dan kami sangat merekomendasikan untuk memencetnya. Kalau anda tidak bisa melihatnya, maka mungkin anda seorang jabroni.

Singkat kata karena saya (Seigi) tidak pandai meramu ucapan pembuka, terima kasih atas perhatiannya dan mari simak tulisan-tulisan yahud minggu ini!


Seigi: Too many media, so little time

Kalian pernah gak sih ngerasa jaman sekarang ini ada terlalu banyak tontonan diluar sana?

Sebenernya pikiran ini udah terbesit sejak beberapa tahun terakhir ini di kepala saya, tapi setelah harus powering through empat jam Snyder cut Justice League kemarin, jadi makin kepikiran untuk ditulis. Rasanya, sekarang ini ada terlalu banyak media seperti TV, film, game, musik, video YouTube, dan lain-lainnya tapi waktu untuk konsumsinya sama sekali gak cukup.

Setelah cari tahu sedikit, ternyata memang gak cuman saya yang kepikiran gitu. Dan faktanya memang betul, jumlah hiburan seperti acara TV dan anime naik terus dari tahun ke tahun. Sampai ratusan.

Harus saya akui memang tapi kebiasaan konsumsi saya cukup rakus- saya melahap semuanya dari acara TV, film, anime, manga, komik superhero barat, tokusatsu, pro wrestling, video YouTube, game PC, game PS, game Switch…. belum banyaknya franchise, genre, dan hobi yang saya gemari. Gak hanya tontonan seasonal yang sedang tayang sekarang yang gak kesampaian ditonton, secara pribadi juga mash banyak banget anime dari tahun 80’an hingga sekarang yang ingin saya tonton.

Err… mungkin ini memang salah saya sih, ngerepotin diri sendiri.

Tapi ya, bagaimana tidak? Silver lining-nya dari ini semua adalah memang sekarang semakin banyak konten hiburan yang bagus & berkualitas diluar sana, dan aksesnya semakin mudah. Ketimbang 5-10 tahun yang lalu, orang jaman sekarang benar-benar spoilt for choice di pilihan hiburan yang bisa dikonsumsinya. Bahwasanya orang bisa nonton anime season baru langsung dengan subtitel di YouTube gratis dan official itu mukjizat banget rasanya kalau nginget dulu orang untuk nonton anime tertentu harus keliling cari VCD anime bajakan dulu, dan itupun belum tentu ketemu anime yang dia cari.

Mungkin memang pada akhirnya saya, dan pengkonsumsi media jaman sekarang-lah yang harus legowo dan ikhlas kalau gak mungkin untuk bisa menonton semua hal yang ingin saya tonton, membaca semua bacaan yang ingin saya baca, dan memainkan semua mainan yang ingin saya mainkan.

Tapi bukan berarti dari pihak yang ngebuat hiburan-nya gak bisa melakukan sesuatu tentang hal ini.

Baru-baru ini saya mencoba main Valheim, open-world survival game bertema viking yang lagi hot dibicarakan. Cukup menarik, tapi ada banyak hal dari elemen game-nya yang makan waktu banyak banget, dan akhirnya ngebuat saya cukup frustrasi untuk berhenti bermain. Memang sih, mungkin genre game-nya aja yang gak cocok dengan saya. (Crafting just isn’t for me.) Tapi sembari bermain, saya ngelihat ada banyak banget sistem dan proses dalam gamenya yang bisa dipersingkat waktu yang diperlukan untuk melakukannya. Ada banyak banget quality of life improvement yang bisa dibuat agar yang main bisa lebih hemat waktu. (Caveat disini adalah memang gamenya masih Early Access, jadi dapat dimengerti kalau masih banyak kekurangannya.)

Tapi ini kembali ke poin saya tentang jumlah media yang membuat kewalahan, panjang media yang dikonsumsi juga berpengaruh. Dan waktu yang dibutuhkan untuk kelar game jaman sekarang juga semakin panjang. (Ini juga pernah dibahas di episode Seguecast sebelumnya!)

Yang jelas, game dan media lainnya jadi semakin panjang dan meminta lebih banyak dari waktu kita.

Tapi waktu kita terbatas.

Saya mau menutup tulisan kali ini dengan prediksi: semakin kedepannya, hal yang akan menjadi kunci bagi media untuk memenangkan hati orang-orang bukan hanya kualitasnya, tapi bagaimana dia bisa menghormati waktu audiensnya. Di saat semua orang bisa mengakses hiburan berkualitas apapun dengan mudah dan terjangkau secara harga, maka game, tontonan, dan bacaan yang akan menang adalah yang tidak menghabiskan waktu audiensnya dengan sia-sia, dan tidak meminta terlalu banyak waktu dari mereka.

Buying power konsumen akan terus naik, kualitas hiburan akan terus naik, tapi medan perang sebenarnya dan yang akan diperebutkan oleh semua bentuk entertainment adalah waktu luang orang-orang, yang semakin terbatas. Dan to be honest, rasanya sudah sulit bagi saya untuk mulai main game apapun yang mengharuskan saya menghabiskan sejam untuk dailies tiap harinya atau mulai membaca komik yang sudah punya ratusan chapter, disaat saya sudah punya game atau komik lain serupa yang sudah saya ikuti terlebih dahulu. Seiring berkembangnya perilaku konsumsi media seperti ini, rasanya para pembuat media juga harus take notice.

Dan yang jelas jangan meminta kita harus menonton film EMPAT JAM yang waktunya bisa dipakai untuk banyak hal lainnya dan ujung-ujungnya gak bagus-bagus amat juga.


anjing/siswa: Kayfabe, from wrestling mats to superchats

Kalau saya menyebutkan karakter fiksional dengan ciri-ciri seperti berikut: Berpakaian hitam-hitam, pernah sekali punya gimmick texas redneck badass, punya kekuatan yang berhubungan dengan kematian, dan punya hubungan love-hate dengan karakter merah yang entah kenapa sering terbakar, maka siapakah yang lewat di pikiran kalian?

Apabila kalian menjawab Mori Calliope dari HololiveEN, selamat kalian benar!
Apabila kalian menjawab Undertaker dari WWE, maka selamat kalian juga benar!

Dari seluruh kasus pembunuhan yang dilakukan oleh internet dan segala kemajuannya, kayfabe barangkali sering dipercaya sebagai salah satu korban yang dampaknya paling besar terhadap kemampuan kita menikmati sekian banyak bentuk hiburan, terutama pro wrestling. Ah tunggu, karena mungkin banyak yang belum tahu, apa itu sebenarnya kayfabe?

Kayfabe, mulanya adalah lingo yang sering digunakan di dunia pro-wrestling, asalnya darimana? Tiada yang tahu. Namun demikian, kegunaannya adalah mufakat. Kayfabe selalu digunakan untuk mendeskripsikan suspension of disbelief yang harus penontonnya lakukan saat menonton karakter – karakter di televisi ini bertarung dengan satu sama lain. Realita di pro-wrestling, bukanlah realita di dunia nyata. Seringkali ada pertanyaan tolol yang ditujukan pada penggemar pro-wrestling semacam “loh apa kalian tidak tahu kalau semua ini cuma settingan?”. Tentu saja kami tahu! Tapi apa yang kita tonton akan jadi jauh lebih menyenangkan jika kita tidak berpikir demikian. Kane bukanlah adik sebenarnya dari Undertaker, namun dinamika keduanya akan jauh lebih menarik apabila kita percaya akan hal tersebut. Begitupula saat tiap kali ring announcer mengumumkan bahwa Undertaker berasal dari Death Valley (bukan nama tempat yang ada sungguhan di California), jauh lebih menyenangkan untuk membayangkan apabila beliau datang dari alam supranatural. Hanya datang sesekali ke ring WWE untuk membaling orang karena dipanggil oleh pawangnya yang membawa guci magis. The Rock dan Stone Cold Steve Austin mungkin adalah teman baik di dunia nyata, namun kalau kita tidak percaya bahwa mereka siap melakukan apapun kepada satu sama lain demi memenangkan WWF Championship, mungkin pertandingan mereka berdua di Wrestlemania X-Seven tidak akan jadi selegendaris sekarang.

Sayangnya, kayfabe sudah mati. Dan itu diamini oleh orang banyak sebagai kepercayaan diatas seluruh kepercayaan.

Internet mungkin bukanlah yang menusuk  jantung kayfabe. Tapi internetlah, yang menusukkan, memutar dan menguyel-uyel senjata pembunuhnya. Saat kita bisa melihat dengan mudah 2 pegulat yang tiap minggu seharusnya sedang mencoba membunuh satu sama lain main game bersama di belakang layar, atau pegulat senior yang tiap datang dan pergi dari ring tidak pernah tidak meninggalkan korban pegulat muda tidak bersalah sebenarnya adalah paman-paman wholesome yang punya hobi koleksi kaos kaki dan sangat sangat menyukai one piece, atau saat seorang heel (istilah pro-wrestling untuk karakter jahat) yang sedang dipush oleh NJPW mengirim tweet seperti demikian :

Maka disat itulah krisis kepercayaannya mulai muncul. Mana yang nyata? Mana yang tidak? Apa yang boleh dan harus kita percaya?

Idols

Saat saya mulai menggeluti dunia peridol-an Jepang sejak 1 dekade yang lalu, tidak ada hal yang membuat puzzle pieces-nya jatuh ke tempat yang tepat selain saat berhasil mendapatkan mindset bahwa sebenarnya this whole idol business, sesungguhnya, tidak jauh beda dengan pro-wrestling, baik dari segi performatif, sampai bagaimana manajemen menjalankan bisnisnya. Menemukan beragam grup idol dengan beragam gimmicknya ini seperti menyaksikan ragam promosi gulat seperti WWE, ECW atau Dragon Gate yang punya kehandalan dan ceruk pasarnya masing-masing. Idol pun, masing-masing punya personanya masing-masing. Sejak tahun 80’-an dimana para marketer musik Jepang sudah mengetahui benar bagaimana cara, mengemas, dan menjual seorang idol, maka setelah itu apa yang diketahui oleh penggemar yang relasi satu arahnya selama ini hanya melalui layar kaca atau interaksi terbatas melalui sesi handshake atau direct selling sejatinya tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Atau lebih tepatnya mungkin, apa yang terlihat, dan apa yang tidak terlihat, semuanya adalah benar. Namun mereka berdua berada di dua dimensi realita yang berbeda. Ini agak berbeda dengan aktor film karena Tony Stark bukanlah Robert Downey Jr. Tapi Chris Jericho, baik di ring gulat, atau saat sedang ngeband atau saat sedang tidak mematuhi protokol kesehatan disaat pandemi, adalah seorang Chris Jericho yang sama.

Pada 2020 kemarin pun, waktu saya akhirnya saya mulai menonton vtuber, hal yang membuat saya klik dengan dunia baru yang penuh kegilaan ini adalah saat saya melihat banyak sekali paralel antara vtuber dengan idol. Yang apabila ditarik lebih jauh, membuat vtuber juga hampir tidak ada bedanya dengan pro wrestling. Saat Inugami Korone mengatakan bahwa dia adalah seekor anjing, maka itu adalah kebenaran yang seluruh penontonnya harus imani kalau tidak mau dipukul di muka. Vtuber, dengan seluruh gimmick karakternya, sejatinya tidak jauh berbeda dengan orang yang harus bermain peran sebagai pegulat profesional.

Bleeding into Reality

Beberapa tahun lalu, seorang teman (dan sepertinya, ratusan ribu orang lainnya) sebal karena Sashihara Rino memenangkan Senbatsu Sosenkyo AKB48 (dan yakin bahwa seluruh kompetisi ini hasilnya rigged). Ini mengingatkan saya pada periode dimana WWE mati-matian mencoba mem-push John Cena. Di era ini, yang biasa disebut era Super Cena, John Cena tidak akan pernah kalah, dan saat ada pegulat baru yang secara organik disukai oleh para fans, maka dia akan dijadikan stok pakan bagi John Cena. Logikanya, saat John Cena berhasil mengalahkan superstar lain yang populer, maka posisinya di puncak tidak tergoyahkan dan semua orang pasti setuju dengan itu (nyatanya kebalikannya). Cacat logika yang entah mengapa dimiliki bersama oleh booker dan planner dari 2 promosi gulat dan idol terbesar di dunia saat itu. Akhirnya, fans lashing out dan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap John Cena, meskipun John Cena tidak pernah memerankan karakter heel. Saat itu, reaksi penggemar tidak bisa lagi didikte oleh dinamika face-heel yang sudah dituliskan sebelumnya oleh tim penulis WWE. Begitu tembok antara realita pro wrestling dan dunia nyata menjadi makin kabur, maka hal-hal seperti ini jadi mungkin terjadi. Krisis kepercayaan yang dirasakan oleh para penggemar pro-wrestling menyadarkan mereka bahwa mereka sesungguhnya punya kuasa atas apa yang mereka saksikan dari balik layar. Yang meskipun seharusnya adalah hal yang baik, namun juga memiliki potensi untuk menjadi sumber gizi bagi orang obnoxious yang kurang handal dalam meraba dan mengukur jarak. Seberapa nyatanya sesuatu bagi seseorang, bukan menjadi pembenaran bagi mereka untuk semaunya saja melakukan apapun pada apa yang ada di depan mereka (untuk bacaan lain yang lebih menarik dan lengkap soal ini, silahkan baca Buletin Seguecast Edisi 3B).

Agaknya yang menyelamatkan Vtuber dari mengalami masalah yang sama adalah tekstur yang diberikan oleh virtual avatar­ yang dimiliki setiap pelakunya. Meskipun kita tahu bahwa sosok yang ada dibalik karakter yang sedang bicara pada kita ini adalah manusia, jauh lebih mudah untuk menahan disbeliefnya saat interface yang kita hadapi bukan manusia sungguhan.  Selain itu, identitas orang dibaliknya yang sengaja dibuat anonim juga tidak membuat kita rancu akan mana itu identitas yang dibawa seseorang saat berada di ring atau di panggung, dan mana yang harus dia tanggalkan saat sedang tidak menjadi seorang performer.

Namun demikian, saya rasa hal terbaik yang mungkin terjadi, baik itu bagi yang menghibur dari balik layar dan yang terhibur di depan layar, adalah saat gimmick dan persona diluar panggung sang performer lebur jadi satu. Nyatanya, The Rock tidak akan jadi the most electrifying manin pro-wrestling kalau saja Dwayne Johnson tidak sekarismatis itu di dunia nyata. Karir seorang John Cena pasti akan tenggelam cepat apabila dia tetap setia dengan gimmick The Prototype-nya dan tidak menciptakan kembali dirinya menginkorporasikan hobinya melakukan freestyle rap melawan WWE Superstar lain saat ditengah-tengah perjalanan. Jelas, lebih mudah bagi sang performer untuk menjadi senatural mungkin saat mereka tidak perlu sibuk mematinyalakan tombol persona. Saat apa yang mereka lakukan tidak lagi seperti sebuah bad acting, kita para fans yang menontonnya akan lebih mudah mengakui apa yang mereka lihat sebagai hal yang nyata.

2011 lalu, CM Punk menjadi legenda dengan pipebomb promo-nya yang uniknya, meskipun adalah curahan segala keresahan dan kemarahan Phil Brooks sang pribadi, namun juga berfungsi sebagai alat untuk memajukan karakter CM Punk, sang pegulat. Di saat ini lah, kedua persona tersebut mengalami superposisi. Kayfabe dan kenyataan, bukannya terpaksa saling menghancurkan, melainkan lebur menjadi satu sama lain. Membuktikan bahwa sesungguhnya apa yang ada dibalik layar sama nyatanya, hanya saja selama ini menempati dimensi yang berbeda. Dengan adanya direksi higher power seperti manajemen untuk mengikuti cerita dan skrip dialog yang sudah dituliskan, maka makin sulitlah bagi kedua dimensi tersebut untuk bertemu. Lagi-lagi, adalah isu yang relatif lebih mudah diatasi oleh vtuber melihat cenderung lebih tingginya derajat kebebasan yang diberikan pada pelaku-pelakunya oleh agensi atau manajemen tempat mereka bernaung. Apalagi bagi mereka yang indie dan bisa beraktivitas tanpa perlu giving a fuck pada siapapun.

(untunglah video -video diatas akhirnya dirilis kembali oleh manajemen Hololive. Kalau tidak, mereka harus bersiap-siap menghadapi gerakan #freethehaachamacut)

Salah satu momen paling berkesan sepanjang mengikuti dunia Vtuber di waktu yang sebenarnya baru sebentar ini adalah saat Usada Pekora mengumumkan pada ibunya bahwa dia adalah Vtuber, menepati janjinya saat dia berhasil mencapai angka 1 juta subscribers di channel youtube-nya. Saat ini terjadi semua orang tidak ada yang mempertanyakan apakah ibu Pekora juga adalah kelinci, atau apakah dia juga berasal dari Pekoland. Di saat itu, hal-hal remeh temeh itu menjadi tidak penting karena kenyataan yang sedang dihadapi bersama adalah momen disaat kelinci war criminal kesayangan kita semua berbagi kebahagiaan dengan ibunya, dan bersama dengan ibunya, membagikannya kepada para fans. Usada Pekora the vtuber dan Usada Pekora the person, menempati dimensi yang sama.

Disaat-saat seperti itulah kayfabe juga menegaskan kehidupannya. Kayfabe tidak pernah dan tidak akan pernah mati. Mungkin wujudnya, atau amalannya, atau penganutnyalah yang berubah. Namun sifat dasar kayfabe yang membuatnya secara mendasar paling dekat pada kebenaran ketimbang konsep-konsep abstrak lainnya, saya harap membuatnya jadi resilien. Apabila manusia bisa memilih untuk percaya pada hal-hal yang sejatinya tidak masuk akal seperti keberadaan free hand of economy, maka mengapa tidak menggunakan sebagian kecil processing power dan imajinasinya untuk percaya pada konsep-konsep yang lebih sederhana seperti persona pro-wrestler, ataupun vtuber.

Maka dari itu, saat Undertaker resmi memutuskan menggantung sepatunya, atau seorang vtuber yang kita sukai memutuskan untuk pensiun mungkin itu menjadi noktah sedih dalam catatan sejarah umat manusia. Tapi yakinlah, akan lebih menyedihkan lagi apabila kita hidup di dunia yang bahkan sejak awal menolak untuk percaya bahwa seorang pegulat mungkin punya kekuatan mistis, atau literal iblis dari neraka mau membuat channel youtube untuk berinteraksi dengan manusia biasa. Kayfabe, sebagai kulminasi dari kemampuan imajinasi manusia yang tiada tanding tanpa bandinglah after all, yang akan menyebabkan pro-wrestling kita, dan idols kita, dan vtubers kita, dan apapun itu bentuk entertainment di masa depan jadinya, akan jadi lebih menyenangkan daripada yang seharusnya.   


Demikian akhir dari Buletin Seguecast edisi empat ini.

  • Masih perlu alasan untuk prokrastinasi? Jangan khawatir, ada sekitar 18 jam konten podcast yang bisa kalian dengarkan sebagai background noise atau pengusir serangga di official Youtube channel Seguecast.

  • Apabila pembaca sekalian tertarik untuk menjadi penulis kontributor di salah satu edisi Buletin Seguecast, silakan hubungi kami langsung dengan mampir di official Facebook Seguecast.

  • Takut kelewatan Buletin Seguecast edisi berikutnya? Follow official Twitter Seguecast yang hampir tidak pernah ngetwit apa-apa selain update buletin!

Akhir kata, apabila selama membaca segmen di atas teman-teman merasa kesal dan ingin meluapkan amarah, kami menyarankan untuk membagikan Buletin Seguecast edisi ini dan mengumumkan borok-boroknya tulisan kami dengan tombol share di bawah ini:

Share

Sampai jumpa di edisi 5!